PERAYAAN TABOT DI KOTA BENGKULU DALAM PERSFEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL - BAGIAN-01

Indonesiainteraktif.com - Sudah 8 (delapan) tahun yang lalu saya ingin menerbitkan tulisan ilmiah saya berdasarkan disertasi  dengan judul PERAYAAN TABOT DI KOTA BENGKULU DALAM PERSFEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL, yang telah diuji oleh Tim Dosen Penguji Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya namun hingga kini belum terlaksana. Buku ini merupakan karya ilmiah pertama yang membahas mengenai Perayaan Tabot di Kota Bengkulu dalam tingkat Doktoral.

Bahwa sejak saya menempuh pendidikan Program Doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, semua biaya pendidikan termasuk biaya operasional saya tanggung sendiri dan tidak ada sedikitpun bantuan dari pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu maupun Pemerintah Pusat. Walaupun demikian, tidak menyurutkan niat saya untuk mengumpulkan biaya menerbitkan disertasi ini menjadi buku ilmiah pertama mengenai Perayaan Tabot di Kota Bengkulu.

Perayaan Tabot di Kota Bengkulu setiap tahun dilaksanakan. Para tetua Tabot satu demi satu  telah meninggalkan kita. Apabila buku ini tidak diterbitkan, suatu saat Perayaan Tabot di Kota Bengkulu ini bukan tidak mungkin akan hilang dari budaya Bengkulu.

Sebagai langkah awal maka saya akan menuliskannya di media online yang merupakan milik saya sendiri ini indonesiainteraktif.com agar dapat dibaca dan dinikmarti sepanjang masa.

Untuk Bagian-01 ini saya akan mengawalinya dengan Ringkasan tulisan saya dengan total 356 halaman, yang terdiri dari 226 halaman disertasi dan 130 halaman lampiran hasil penelitian. Disertasi ini telah beberapa kali dijadikan sebagai dasar penelitian untuk disertasi dari para peneliti lainnya. Semoga berkenan.


 

RINGKASAN

PERAYAAN TABOT DI KOTA BENGKULU DALAM PERSFEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL

 

Ritual Tabot adalah ritual agama Islam Syi’ah untuk mengenang dan mendramatisasi peperangan di Padang Karbala, Irak, pada tanggal 10 Muharram 61 H,  yang melibatkan dua kubu pasukan, yaitu kubu Imam Husain (bin Ali bin Abi Thalib) melawan kubu Yazid (bin Muawiyah bin Abi Sufyan). Dalam peperangan tersebut, Imam Husain, salah satu cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW, mati terbunuh setelah tangan dan kepalanya terpisah dari badannya. Dalam kondisi yang sangat mengenaskan, jasad Imam Husain ditemukan oleh Alhulbait dan para pengikutnya yang selamat dalam peperangan tersebut. Untuk mengenang kematian Imam Husain dan para pengikutnya di Padang Karbela, Irak,  maka para pengikutnya yang selamat membuat bangunan yang sangat indah pada setiap sepuluh hari pada bulan Muharam. Peristiwa inilah sebagai awal dilaksanakannya Perayaan Tabot hingga saat ini.

Ritual Tabot dibawa oleh para penyebar agama Islam golongan Syi’ah dari Jazirah Arab (Irak dan Iran) ke Bengkulu melalui Punjab, India, pertama kali pada tahun 756/757 H/1336 M oleh Maulana Ichsad dan rombongan, setelah itu  disebarkan dan  dikembangkan kembali oleh Syekh Burhanuddin (Imam Senggolo) di Bengkulu pada masa kolonial Inggri (1685-1825). Ritual Tabot tersebut diwariskan kepada anak cucu Imam Senggolo dan pengikutnya yang telah berasimilasi dengan penduduk Bengkulu, yang juga menyebabkan terjadinya akulturasi budaya Tabot dengan budaya Melayu Bengkulu. Karena Ritual Tabot sudah dilaksanakan lebih dari 675 tahun maka Ritual Tabot sudah dipandang sebagai ritual masyarakat Bengkulu.

Ritual Tabot pada awalnya adalah ritual Islam Syi’ah, namun karena kuatnya pengaruh Islam Sunni (Ahlusunna Wal Jamah) di Bengkulu maka keturunan penyebar Islam dari golongan Syi’ah yang telah berasimilasi dengan penduduk Bengkulu tersebut pindah menjadi pengikut Islam Sunni yang taat. Walaupun mereka sudah menjadi pengikut Islam Sunni yang taat tetapi mereka tetap melaksanakan Ritual Tabot sebagai ”ritual agama Islam secara universal”, serta mereka melaksanakan Ritual Tabot sebagai kewajiban untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Ritual Tabot mempunyai nilai-nilai yang universal  sehingga dapat diterima dan fungsional oleh masyarakat Bengkulu, walaupun zaman terus berganti namun Ritual Tabot dapat diterima oleh seluruh masyarakat Bengkulu yang plural dan heterogen, karena nilai yang terkandung dalam Ritual Tabot mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dengan toleransi antarsuku, etnis dan agama yang kuat. Pada daerah yang heterogen, nilai-nilai yang terkandung dalam Ritual Tabot sangat dibutuhkan untuk mengintegrasikan masyarakat dalam bingkai persatuan yang kokoh dan kuat sebagai modal dasar kehidupan bermasyarakat.

Ritual Tabot mampu menyatukan berbagai suku, etnis dan agama yang ada di Kota Bengkulu. Fungsionalitas Ritual Tabot dalam mengintegrasikan masyarakat yang plural dan heterogen dikembangkan menjadi Perayaan Tabot dengan berbagai multiplier effect yang menguntungkan masyarakat serta pemerintah, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, keuangan, perdagangan, transportasi, hukum, pendidikan, pariwisata serta bidang-bidang lainnya. Perkembangan dan promosi Ritual Tabot menjadi Perayaan Tabot tidak dilakukan oleh penganut Islam Syi’ah (karena penduduk Bengkulu tidak ada lagi yang menganut Islam Syi’ah) tetapi oleh penganut Sunni (padahal Syi’ah dan Sunni tidak sepaham) sebagai ritual budaya yang mempunyai kekuatan mengintegrasikan masyarakat Bengkulu. Karena Perayaan Tabot fungsional bagi kehidupan masyarakat Bengkulu yang plural dan heterogen maka Perayaan Tabot dapat bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Pada awalnya ada benturan pemahaman di kalangan masyarakat terhadap Ritual Tabot. Sebagian elemen masyarakat mengecamnya dan menganggapnya perbuatan syirik. Akan tetapi, secara berangsur-angsur pemahaman itu hilang seiring dengan proses akulturasi budaya. Pada prinsipnya, Ritual Tabot memiliki hubungan dengan paham Syi'ah, yang dibuktikan dengan arak-arakan Tabot yang pesannya menggambarkan ritus penghormatan atas syahidnya Imam Husain di Padang Karbala. Dalam perjalanan sejarah, melalui proses asimilasi, akomodasi, dan interaksi budaya. yang cukup intens antara ritus bernuansa Syi'ah ini dengan budaya-budaya lokal Bengkulu, maka Tabot mengalami metamorfose budaya. Pada awalnya, Ritual Tabot digelar dalam rangka melaksanakan Syi'ah sebagai paham/ideologis menjadi sebuah kearifan lokal atau sekadar sebagai praktik Syi'ah kultural. Dalam konteks ini Syi'isme bukan lagi sebagai paham dan ideologi keagamaan tetapi sebagai ornamen budaya.

Dalam konteks yang lebih luas, mayoritas masyarakat Bengkulu sudah tidak mempersoalkan asal-usul Tabot, apakah bersumber dari paham Syi'a atau Sunni. Tabot sudah dianggap sebagai bagian dari budaya mereka yang perlu dirayakan sepanjang tahun, tidak ubahnya upacara Sekaten di Kesultanan Yogyakarta. Apalagi, dalam konteks dakwah Islamiah, tradisi Tabot dapat menjadi media dalam mensyiarkan Islam, misalnya tampak melalui kebersamaan dan kegotong-royongan ketika mempersiapkan Perayaan Tabot.

Pemerintah dan Keluarga Kerukunan Tabot melakukan simbiosis multualism  yang saling menguntungkan. Di satu pihak, Keluarga Kerukunan Tabot (KKT) dibantu oleh pemerintah dalam hal sarana, prasarana dan dana, di lain pihak, kegiatan-kegiatan dalam Perayaan Tabot membantu pemerintah dalam melaksanakan tugas pembangunan di segala bidang karena multiplier effect  yang ditimbulkan Perayaan Tabot di Kota Bengkulu mempunyai kekuatan yang besar dalam hal peningkatan kehidupan masyarakat Bengkulu.

Pada saat ini Perayaan Tabot bukan hanya Ritual Tabot tetapi sudah berkembang menjadi perayaan multidimensi dan multitujuan. Peluang yang ada pada Ritual Tabot dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat dalam segala bidang. Perayaan Tabot digunakan sebagai ”pintu masuk” bagi semua bidang pembangunan, bukan hanya di Kota Bengkulu tetapi di Provinsi Bengkulu secara keseluruhan.

Berdasarkan teori struktural fungsional ”Durkheimian” dapat dijelaskan bahwa Ritual Tabot yang awalnya merupakan ritual agama sebagai sesuatu yang fungsional sehingga berkembang dalam “multifungsi dan multidimensi” yang lebih luas, yaitu Perayaan Tabot, maksudnya sebagai wadah yang dapat menyatukan emosi mendalam pada sekelompok orang tertentu melalui simbol dan ritual yang disebut sebagai “kendaraan” bagi perasaan dan integrasi sosial.  Jika teori ini diaplikasikan dalam konteks Perayaan Tabot, maka Perayan Tabot berfungsi mengintegrasikan berbagai macam suku, etnis dan pemeluk agama demi meningkatkan kehidupan masyarakat di Kota Bengkulu yang plural dan heterogen. Perayaan Tabot yang awalnya merupakan ritual agama pada akhirnya agama menjadi identitas sosial. Ritual Tabot yang berkembang menjadi Perayaan Tabot berasal dari kesepakatan kolektif masyarakat, karena masyarakat kota Bengkulu yang plural dan heterogen menganggap bahwa Ritual Tabot mempunyai kekuatan yang dapat dikembangkan sebagai sarana untuk mengintegrasikan dan meningkatkan kehidupan masyarakat Bengkulu, sehingga terjadi perubahan fungsi, dari ”fungsi ritual” menjadi ”multifungsi dan multidimensi”. Perubahan persepsi masyarakat terhadap Ritual Tabot dari ritual agama menjadi ritual budaya mempermudah berkembangnya Ritual Tabot menjadi Perayaan Tabot. Teori Durkheimian mengutamakan arti penting masyarakat-struktur, interaksi dan institusi sosial-dalam memahami pemikiran dan perilaku manusia. Hal ini dapat dicermati dari penekanan Durkheim yang ingin melihat hampir seluruh perubahan utama manusia yaitu persoalan hukum, moralitas, profesi, keluarga dan kepribadian, ilmu pengetahuan, seni dan juga agama, dengan menggunakan sudut pandang sosial. Durkheim mengklaim bahwa tanpa adanya masyarakat yang melahirkan dan membentuk semua itu, maka tak ada satupun yang akan muncul dalam kehidupan. Di sisi lain, Durkheim juga mengungkapkan bahwa fakta sosial itu jauh lebih fundamental dibandingkan dengan fakta individu dan fakta sosial sama nyatanya dengan fakta fisik  dan individu sering disalah pahami ketika pengaruh masyarakat yang begitu kuat terhadapnya di kesampingkan atau tidak dipahami dengan teliti.

Dalam Ritual Tabot yang awalnya merupakan agama sebagai faktor integratif dan pencipta harmoni, tersembunyi suatu asumsi tertentu mengenai konflik. Dalam konteks ini konflik dilihat sebagai gejala patologis yang tampak sebagai suatu penyakit dalam masyarakat. Pandangan positif terhadap Ritual Tabot sebagai ritual budaya sebagai kekuatan integratif, seperti yang tercermin dalam teori Durkheim, mengeliminasi gejala-gejala patologis tersebut yang akhirnya menjadi gejala-gejala yang bersifat konstruktif.

Sebagaimana halnya agama, maka negara juga menciptakan obyek-obyek     suci yang berusaha mengikat individu melalui upacara-upacara repetitif   sebagai bentuk ritual baru seperti Ritual Tabot, hari-hari besar untuk di peringati, pahlawan, kuburan para pemimpin negara, museum, patung-patung, tugu-tugu, bendera kebangsaan, dan lembaga negara itu sendiri. Upacara-upacara yang dilakukan negara dengan khidmat dan disikapi secara religius. Ada kalanya negara modern membentuk suatu ideologi nasional yang mewadahi nilai-nilai luhur yang dirumuskan sebagai kesepakatan. Ideologi nasional itu tidak saja memberikan makna, tetapi juga merupakan pedoman tingkah laku. Dengan ideologi, setiap warga negara tidak saja diharapkan patuh kepada pimpinan nasional atau aturan birokrasi, melainkan juga bertindak dengan sikap mengabdi. Di sinilah terjadi integrasi penuh antara agama, ritual agama dengan negara.

 

Kata-kata kunci: Perayaan Tabot, Fungsional, Plural dan Integrasi.

 


SUMMARY 

THE TABOT FESTIVAL IN THE CITY OF BENGKULU IN STRUCTURAL FUNCTIONAL PERSFECTIVES

 

           

Tabot Ritual is the ritual of Syi’ism to commemorate and dramatize the battle of Karbala dessert, Iraq, on 10th Muharram 61 Hijriah year, involving two troops; of Imam Hussain (bin Ali bin Abi Thalib) against of Yazid (bin Muawiyah bin Abi Sufyan). In the battle, Imam Hussain, one of the most loving grand sons of the Prophet Muhammad, was killed tragically as his arms and head were separated away. His body was found under a very terrible condition by Ahlulbait and his followers who were saved from the battle. In order to commemorate his and his follower’s death in the Karbala dessert, they built very beautiful buildings for every ten days of the Muharram month. It was this event that initialized the Tabot Ritual until present time.

            Tabot Ritual was time brought by Islam messengers of Syi’ah group from the Arabian Peninsula (Iraq and Iran) to Bengkulu through Punjab, India in 756/757 H/1336 AD by Maulana Ichsad and the delegates. Then it was spread out and progressed again by Syeikh Burhanuddin (Imam Senggolo) in Bengkulu in the period of British colonialism (1685-1825 AD). The ritual then was inherited to the grand children of Imam Senggolo and the followers who had assimilated with the native people of Bengkulu, which then also caused the acculturalization of Tabot Ritual with Malay culture of Bengkulu. Because Tabot Ritual has been carried out for more than 675 years, it is now considered as the ritual of Bengkulu people.

            Tabot Ritual was once the ritual of Syi’ism. Because of the strong influence of the Sunni’ism (Ahlussunnah wal Jamaah) in Bengkulu, the descents of the Islam messengers of the Syi’ah who had assimilated with the local people turned to be obedient and religious Sunni’ism followers. In spite of the fact, they kept holding Tabot Ritual as “universal Islamic ritual”, and They even carry it out as their responsibility to keep and conserve the descendants’ heritage.

            Tabot Ritual has universal values so that it is acceptable and functional for Bengkulu people. Although times kept changing, Tabot ritual can be accepted by Bengkulu people who are plural and heterogenic because the values of the Tabot which strongly teach people to live hand in hand peacefully, in harmony, tolerance among tribes, ethnic groups, nations, and religion. In the heterogenic society, the values are needed very much to integrate the society in powerful unity as fundamental thing of social life.

            This ritual enables variety of tribes, ethnic groups, and religions in Bengkulu city to unite together. The functionality of the ritual in integrating the plural and heterogenic society is developed into Tabot Festival with various multiplier effects of festivities which are beneficial for both society and government in social, cultural, economic, financial, commercial, transport, legal, educational, tourism, and other sectors. The Tabot Ritual progress and promotion to become Tabot Festival was actually not accomplished by the Syi’ism (as there were no more Syi’ism followers in Bengkulu) but was purely done by the Sunni’ism (Syi’ah and Sunni have different perception and conception) as the cultural ritual that have strong power to integrate the people. This festival can survive and progress well because it is functional and beneficial for plural society life.

            In the beginning, there was crash of perception about Tabot Ritual among people of Bengkulu. Some elements of the society criticized and even considered it syirik (polytheism). However, it gradually faded away in line with the process of cultural changes. Principally, the ritual is closely related to the Syi’ah teachings which can be proved by the parade or carnival of which message reflects the worship of holy death of Imam Hussain in Karbala dessert. In historical timeline, Tabot underwent cultural metamorphosis through intense process of assimilation, accommodation, and cultural interaction between Syi’ism ritual activities and local tradition or culture of Bengkulu. In the beginning, Tabot Ritual was held purely to perform the Syi’ah religious practice of ideology as the local wisdom or just as the cultural conducts of Syi’ism. In today’s context, it was then changed to be considered as cultural ornament.

            In broader context, most of Bengkulu people today take no controversy to where Tabot derived from, whether Syi’ah or Sunni. It was considered part of their local culture to be celebrated annually, just like the ritual of Sekaten in Yogyakarta. In Islamic spreading context, it can become a media to promote Islam religion. This can be seen from the people’s togetherness and cooperation in preparing the Tabot Festival.

            The government and the Keluarga Kerukunan Tabot (KKT) - Tabot family organization - contribute mutual benefits. In one side, KKT was facilitated with infrastructural and financial support by the government. On the other side, the activities in the Tabot Festival give great contribution to the government programs and performance in all sectors because the multiplier effect from Tabot itself can improve the quality of people life.

            Nowadays, Tabot is not only a ritual ceremony but it keeps emerging and innovating to become multidimensional and multipurpose program. Opportunities in this annual festival have been developed by the government and people in many sectors of development. It is even conditioned to be the “entrance door” for all fields of development both for the municipality and provincial context.

            According to the structural functional theory of “Durkheimian” it can be described that the Tabot ritual that was once a religious ritual is something which is functional so that it emerged in the broader “multifunction and multidimension”, namely Tabot Festival, which is meant to be a momentum to unite deep emotion in a certain group of people through a symbol and ritual called as a “vehicle” for social feeling and integration. When this theory is applied to Tabot festival context, it has a function to integrate variety of tribes, ethnics, and religion embracers for the sake of improving people’s life in Bengkulu which is pluralism and heterogenic. The festival which was initially a religious ritual finally made the religion become social identity. The ritual which emerged to be a festival was brought from people’s collective consensus, because the plural and heterogenic society of Bengkulu consider that the ritual has a powerful strength to integrate and improve people’s life, so that the functional changes occur, from “ritual function” to “multifunction and multidimension”. The change of people’s perception on Tabot ritual from religious ritual to cultural ritual has made it easier for the Tabot ritual to develop into Tabot festival. Durkheimian theory prioritizes on the important meaning of society- social structure, interaction, and institution- in understanding the people’s behavior and thoughts. This can be observed from Durkheim’s emphasis on his curiousity to see almost the whole main changes of human beings, namely legal problems, morality, profession, family, and personality, science, art, and religion, by using social point of view. Durkheim claims that without the society who bears and forms them, there is no possibility of those to occur in our life. On the other side, Durkheim also expressed that the social facts is much more fundamental compared to individual facts, and that the social facts are as real as the physical facts, and that the individual is often misperceived when the strong society’s influence is put aside or not understood carefully.

            The religion which was initially considered an integrative factor and harmony-maker in Tabot ritual has an implication of certain assumption about conflict. In this context, the conflict is viewed as pathologic phonomena appeared as diseases in the society. The positive point of view about Tabot ritual as cultural ritual and integrating power, as reflected in Durkheim’s theory, eliminates the pathologic phenomena which then become constructive phenomena.

            As religion does, the nation also builds sacred objects to bind the individuals through repetitive ceremonies as new forms of ritual such as Tabot ritual, holidays celebration, heroism, national leaders’s cemetery, museums, statues, towers, national flag, and the national institution itself. Ceremonies are carried out seriously in religious atmosphere. A modern nation sometimes creates a national ideology which represents original values formulated as consensus. The national ideology does not only provide the meaning, but also becoming the guide of behaviours. Through this ideology, every citizen is expected not only to obey the national leaders or bureuacratical regulation but also act with full dedication. Therefore, total integration among religion, religious ritual, and nation comes true.

 

Keywords: Tabot Festival, Functional, Pluralism, and Integration