Pemilihan Presiden Belarusia Ricuh, Presiden Uni Eropa Serukan Sanksi Untuk Belarusia

Presiden Uni Eropa Serukan Sanksi Untuk Belarusia

Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen
 

Indonesiainteraktif.com - Pemilihan Presiden Belarusia ricuh. Kandidat oposisi Belarusia Sviatlana Tsikhanouskaya, yang telah dibebaskan setelah sempat ditahan bersama dengan 7.000 orang lainnya, Selasa (11/8/2020) mengatakan ia telah melarikan diri ke Lithuania, setelah terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi pada malam kedua demonstrasi pascapemilu di Belarusia.

Tsikhanouskaya, yang menolak hasil resmi yang menunjukkan kekalahannya dari Presiden Alexander Lukashenko yang telah lama berkuasa, mengatakan, meninggalkan Belarusia merupakan “keputusan sulit,” tetapi ia melakukannya demi anak-anaknya.

“Saya tahu banyak yang akan memahami saya, banyak yang akan menilai buruk saya, dan banyak yang akan mulai membenci saya,” kata Tsikhanouskaya. “Tetapi semoga tidak seorang pun menghadapi pilihan seperti yang saya miliki.”

Dalam ciutan Twitternya, Menteri Luar Negeri Lithuania Linas Linkevicius mengatakan bahwa Tsikhanouskaya berada di negaranya dan dalam keadaan selamat.

Sementara Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen, Jumat (14/8/2020) menyerukan penetapan sanksi-sanksi terhadap Belarusia, di mana pasukan keamanan menindak keras protes oposisi terhadap Presiden Alexander Lukashenko yang otoriter.

“Kita perlu sanksi-sanksi tambahan terhadap mereka yang melanggar nilai-nilai demokrasi atau melanggar HAM di Belarusia,” cuit von der Leyen sebelum telekonferensi yang diselenggarakan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell.

“Saya yakin pembahasan menteri-menteri luar negeri Uni Eropa hari ini akan memperlihatkan dukungan kuat kami bagi hak-hak rakyat Belarusia atas kebebasan fundamental dan demokrasi,” sebut von der Leyen.
 

Pilpres Belarusia Ricuh

Pemberlakuan sanksi-sanksi terhadap Minsk mensyaratkan persetujuan dengan suara bulat di antara 27 negara anggota blok itu. Uni Eropa telah menetapkan situasi di Belarusia sebagai “masalah yang sangat mengkhawatirkan,” setelah pemilu Minggu yang disengketakan, yang menurut Brussels tidak bebas dan tidak adil.

Sementara itu pihak berwenang Belarusia membebaskan sekitar 1.000 demonstran yang ditahan pada hari Jumat setelah mengeluarkan permohonan maaf terbuka yang jarang dilakukan, sementara Uni Eropa mempertimbangkan sanksi-sanksi terhadap negara itu.

Presiden Uni Eropa Serukan Sanksi Untuk Belarusia

(II/Hy)