Klarifikasi SMA Negeri 5 Bengkulu: Penolakan Siswa Bukan Keputusan Sekolah, Tetapi Sistem Pendaftaran Online

Klarifikasi SMA Negeri 5 Bengkulu: Penolakan Siswa Bukan Keputusan Sekolah, Tetapi Sistem Pendaftaran Online pada Sabtu (8/7/2023) , (Foto : Andre)

Indonesiainteraktif.com , Kota Bengkulu -- Sejumlah siswa yang sebelumnya ditolak masuk sekolah melalui jalur zonasi akhirnya dipanggil oleh pihak sekolah. Salah satu wali murid, Hadi, yang sebelumnya protes karena anaknya ditolak jalur zonasi dan dimintai Rp 15 juta, merasa lega atas panggilan tersebut. Sebelumnya, Hadi mencoba memasukkan anaknya melalui jalur prestasi namun malah diminta uang. Hadi mengklaim bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami hal tersebut, tetapi juga beberapa wali murid lainnya. Pihak sekolah memanggil mereka kembali dan menyatakan bahwa anak-anak masih harus menunggu hingga ada kabar resmi dari sekolah.

Hadi berharap anaknya dapat diterima di sekolah dan ada keringanan biaya sekolah karena dia hanya bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Dia berharap agar keadaan tersebut dapat dipertimbangkan oleh pihak sekolah.

"Kita dipanggil kembali oleh pihak sekolah. Anak saya masih diminta menunggu hingga dikabari pihak sekolah. Saya berharap anak saya bisa diterima, karena saya hanya berprofesi sebagai kuli panggul di pasar." ujar Hadi, Sabtu (8/7/2023).

SMA Negeri 5 Bengkulu sebagai pihak sekolah yang dimaksud memberikan klarifikasi mengenai isu tersebut. Mereka membantah bahwa mereka menolak calon siswa dan meminta uang sejumlah Rp 15 juta. Ketua panitia penerimaan siswa baru SMAN 5 Bengkulu, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa pihak sekolah tidak memiliki kekuasaan untuk menolak calon siswa karena sistem pendaftaran yang berjalan secara online. Jika siswa tidak diterima, itu karena sistem yang berjalan otomatis.

Hendra menegaskan bahwa tuduhan tentang permintaan uang agar calon siswa diterima di sekolah adalah fitnah. Pihak sekolah meminta siapa pun yang memiliki bukti terkait hal tersebut untuk menunjukkannya kepada mereka.

Pihak sekolah berupaya menjelaskan bahwa penolakan siswa tidak berasal dari mereka, melainkan dari sistem pendaftaran online. Mereka menjelaskan bahwa setelah siswa diterima oleh sistem, langkah selanjutnya adalah melakukan pendaftaran ulang di sekolah.

"Yang menolak itu sistem, bukan kami. Kalau sudah diterima oleh sistem, baru melakukan pendaftaran (ulang) ke sekolah. Itu fitnah kalau pihak kami meminta uang agar (calon siswa) bisa diterima di sekolah. Siapa orangnya, tunjukkan ke kami," tegas Hendra.

Penulis : Andre
Editor : Daddy