
Indonesiainteraktif.com, Aceh Utara - Maraknya kasus korupsi di Indonesia bukan hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi terjadi pula di Kabupaten Aceh Utara, sebagaimana disampaikan oleh jurnalis Indonesiainteraktif.com berikut ini :
1. Korupsi Dana Desa – Mantan Keuchik Divonis 6 Tahun (2026)
Kasus terbaru terjadi pada 2026, melibatkan mantan kepala desa (keuchik) Gampong Deng, Kecamatan Tanah Luas.
- Terdakwa: Fadlonnur (mantan keuchik, status DPO)
- Periode: 2019–2021
- Kerugian negara: ± Rp789 juta
- Modus: Mengelola dana desa sendiri tanpa melibatkan bendahara serta diduga membuat kwitansi fiktif
-
Putusan:
- 6 tahun penjara
- Denda Rp300 juta
- Uang pengganti Rp789 juta
Kasus ini menunjukkan lemahnya pengawasan internal desa dalam pengelolaan dana gampong.
2. Korupsi Dana Desa Rp2,1 Miliar – Keuchik Terancam 20 Tahun (2026)
Kasus lain diungkap oleh Polres Lhokseumawe:
- Tersangka: MN (44), keuchik Gampong Pulo Drien Beukah
- Periode: 2020–2022
- Total dana dikelola: Rp2,1 miliar
- Kerugian negara: ± Rp629 juta
- Ancaman hukuman: hingga 20 tahun penjara
Kasus ini memperlihatkan skala penyimpangan yang cukup besar dalam penggunaan dana desa.
3. Korupsi Dana Desa Rp516 Juta – Kepala Desa Jadi Terdakwa (2025)
Kasus sebelumnya juga menjerat kepala desa lainnya:
- Terdakwa: Abdul Hamid (Keuchik Gampong Lhok Reudeup)
- Kerugian negara: Rp516 juta
- Total dana dikelola: Rp1,73 miliar (2020–2021)
- Modus: Penyalahgunaan kewenangan dan penggunaan dana untuk kepentingan pribadi
4. Korupsi Proyek Monumen Islam Samudera Pasai (APBN Rp49 Miliar)
Ini merupakan kasus korupsi besar di Aceh Utara:
- Proyek: Pembangunan Monumen Islam Samudera Pasai
- Nilai proyek: Rp49 miliar
- Pelaku: 5 orang (pejabat dinas, PPK, konsultan, kontraktor)
- Vonis: 6–7 tahun penjara
- Uang pengganti: hingga puluhan miliar rupiah
Kasus ini menonjol karena melibatkan proyek multiyears dan pejabat struktural.
Analisis Singkat
Dari berbagai kasus tersebut, terlihat pola utama korupsi di Aceh Utara:
- Dominasi kasus dana desa
Mayoritas kasus terjadi di tingkat gampong, menunjukkan lemahnya tata kelola dan pengawasan. - Penyalahgunaan kewenangan
Kepala desa cenderung memonopoli pengelolaan keuangan tanpa mekanisme kontrol. - Proyek pemerintah sebagai sumber korupsi besar
Seperti kasus Monumen Samudera Pasai yang melibatkan banyak pihak dan nilai besar.
Kesimpulan
Korupsi di Aceh Utara terjadi baik di level desa (mikro) maupun proyek pemerintah (makro). Penegakan hukum sudah berjalan, namun masih diperlukan:
- Penguatan sistem pengawasan dana desa
- Transparansi anggaran publik
- Peningkatan kapasitas aparatur desa
Disusun Oleh :
Rindu Gita Tanzia Pinem, SH., MH.,