Indonesiainteraktif.com, Riau - Penurunan jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau menjadi salah satu hasil positif dari upaya bersama dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Meski kondisi membaik, pemerintah daerah meminta pengawasan tetap diperketat agar potensi kebakaran tidak kembali meningkat.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto setelah menghadiri rapat koordinasi Penanggulangan Karhutla di Provinsi Riau yang berlangsung di GOR Presisi Polda Riau, Kamis (27/8/2026).
Rapat koordinasi tersebut digelar atas inisiatif Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. Kegiatan ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo pada 24 Agustus 2026 terkait penanganan Karhutla di Riau.
Sejumlah unsur turut mengikuti rapat, di antaranya Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Abdul Haris, jajaran Forkopimda, BMKG, BPBD, serta pimpinan perusahaan pemegang konsesi yang beroperasi di wilayah Riau.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Riau, saya mengucapkan terima kasih dengan terselenggaranya kegiatan pada hari ini,” ujar SF Hariyanto.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat memberikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak dalam pengendalian Karhutla di Riau. Hal tersebut disampaikan dalam arahan Presiden Prabowo setelah sebelumnya menerima pemaparan mengenai kondisi Karhutla dari sejumlah unsur terkait.
Paparan tersebut disampaikan BPBD, Kapolda, dan Pangdam saat Presiden berada di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru pada Senin (24/8/2026).
SF Hariyanto mengatakan, berkurangnya jumlah hotspot di Riau menjadi salah satu gambaran bahwa upaya pengendalian yang dilakukan secara bersama-sama mulai menunjukkan hasil.
“Dari jumlah yang disampaikan, titik hotspot yang ada di Provinsi Riau ini sangat jauh menurun. Ini artinya kerja sama kita semuanya,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar penurunan hotspot tidak menjadi alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Seluruh pihak tetap diminta melakukan pemantauan dan pengawasan secara berkelanjutan guna mencegah munculnya kembali titik panas yang berpotensi berkembang menjadi Karhutla.
“Walaupun hotspot turun, tapi kita harus tetap awasi semuanya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, SF Hariyanto juga menyampaikan penghargaan kepada Kapolda Riau beserta jajaran Polri dan pihak dunia usaha yang telah ikut berperan dalam penanganan Karhutla.
Menurutnya, pengendalian Karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, organisasi hingga perusahaan dan dunia usaha.
“Inilah yang perlu kita syukuri,” katanya.
SF Hariyanto berharap sinergi dan koordinasi yang telah terbangun tersebut dapat terus dipertahankan. Dengan kolaborasi lintas sektor yang konsisten, penanganan dan pencegahan Karhutla di Provinsi Riau diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.